"Hari ini kita ketemuan di Warkop A ya!, jam 17.00" begitu pesan singkat melalui BBM yang saya terima dari seorang pejabat di Kota B. Kami sudah berteman sejak SD. Dia menempuh jalur pemerintahan sebagai ladang pengabdiannya, sedangkan saya memutuskan untuk independent, alias berusaha sendiri. Pertemuan di warkop merupakan pertemuan rutin kami setiap 2 minggu sekali. dilakukan sepulang ia dari kantornya.
Pertemuan dua sahabat, tanpa ada batasan pangkat, jabatan dan kedudukan. Polos sebagaimana waktu bermain bola di lapangan dekat SD kami. Sepak bola merupakan kegiatan wajib kami di sore hari. Makin asyik jika bermain di bawah guyuran hujan. Bercipratan dengan lumpur. Dibasuh air hujan dan terkapar di matras rumput. Setiap bertemu pasti kenangan itu yang menjadi pembicaraan kami. Ditemani Kopi dan kue kue kecil membuat kami sering lupa waktu.
Terkadang masalah sosial politik ikut kami bahas di saat sat tersebut. Terkadang beberapa pengunjung warkop yang mengenal kami ikut bergabung meramaikan suasana diskusi. Kebijakan Pemkot yang dirasa ganjil terkadang menjadi terang melalui pembicaraan ringan ini. Atau ada yang ingin melaporkan masalah di daerahnya, bisa cepat ditanggapi melalui pembicaraan di warkop ini.
Apakah ini salah satu bentuk sosialisasi. Jika kita merujuk ke sejarah bangsa, banyak persoalan ternyata bisa terpecahkan melalui pertemuan informal di warung warung kopi seperti ini. Maka saya tertarik memberi judul tulisan ini "Sosialisasi secangkir kopi"
Pertemuan dua sahabat, tanpa ada batasan pangkat, jabatan dan kedudukan. Polos sebagaimana waktu bermain bola di lapangan dekat SD kami. Sepak bola merupakan kegiatan wajib kami di sore hari. Makin asyik jika bermain di bawah guyuran hujan. Bercipratan dengan lumpur. Dibasuh air hujan dan terkapar di matras rumput. Setiap bertemu pasti kenangan itu yang menjadi pembicaraan kami. Ditemani Kopi dan kue kue kecil membuat kami sering lupa waktu.
Terkadang masalah sosial politik ikut kami bahas di saat sat tersebut. Terkadang beberapa pengunjung warkop yang mengenal kami ikut bergabung meramaikan suasana diskusi. Kebijakan Pemkot yang dirasa ganjil terkadang menjadi terang melalui pembicaraan ringan ini. Atau ada yang ingin melaporkan masalah di daerahnya, bisa cepat ditanggapi melalui pembicaraan di warkop ini.
Apakah ini salah satu bentuk sosialisasi. Jika kita merujuk ke sejarah bangsa, banyak persoalan ternyata bisa terpecahkan melalui pertemuan informal di warung warung kopi seperti ini. Maka saya tertarik memberi judul tulisan ini "Sosialisasi secangkir kopi"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar